Isak tangis mengisi hari ini. Ayahanda dari Eryu meninggal. Ayah Eryu meninggal karena penyakit yang sangat langka yang ada di Heilig Galaxy, kemungkinannya hanya 1:1.000.000.000 orang yang terkena penyakit ini. Penyakit ini dinamakan Deadly Poison, dinamakan seperti itu karena orang yang terkena penyakit ini tidak akan sembuh. Kini Eryu hidup seorang diri, ibunya meninggal ketika melahirkan Eryu. Eryu adalah anak tunggal dari keluarga Ryugen. Keluarganya sangat berperan dalam kehidupan masyarakat Cora.
“Hix...Hix...Hix... Ayah... mengapa engkau meninggalkan aku??? Mengapa ayah???” Teriak Eryu bersamaan dengan isak tangis yang mendalam. “Sudahlah Eryu, relakan ayahmu, kita semua yakin bahwa Ronz Ryugen akan berada di sisi Decem.” Kata Texer, teman seperguruan Eryu. Ronz adalah gelar kehormatan tertinggi yang diberikan untuk orang yang telah berjasa bagi Holy Alliance.
“TIDAK!!! Aku tidak bisa merelakannya... Aku tidak tahu akan hidup dengan siapa? Aku sebatang kara!” Kata Eryu sambil menatap Texer dengan tajam sambil memegang erat kedua bahunya. “Er, aku tahu betapa pedihnya hatimu, tapi kau masih punya kami, kami yang selalu ada disaat apapun juga.” Tiba-tiba bisikan lembut suara wanita terdengar di kuping kanannya, menenangkan hati Eryu yang sedang gundah. Eryu menoleh ke asal suara itu, ia melihat sesosok wanita yang anggun, cantik, dan lembut. “Terima kasih Arline.” Kata Eryu dengan suara yang hampir tidak terdengar. “Arline, hanya kamu yang dapat membuat hatiku tenang, terima kasih Line.” Kata Eryu di dalam hati.
Suasana di pemakaman sangatlah mengharukan, hampir seluruh orang datang menghadiri upacara pemakaman Ronz Ryugen. Setelah upacara pengiriman arwah, selang beberapa waktu, jasad ayah Eryu berubah bak air. Namun, tanpa bekas basah sedikitpun, dan pemakaman itu diakhiri dengan isak tangis banyak orang. “Er, lebih baik kamu pulang ke rumah ku saja.” Ajak Texer. “Aku tidak tega melihatmu tidur sendirian saat ini, kamu boleh tinggal sampai kapan pun.” Tambah Texer. “Baiklah.” Kata Eryu dengan muka tertunduk dan mata yang berlinang air mata.
“Aku duluan ya Line.” Kata Texer sambil melambaikan tangannya, namun Eryu tidak berkata sedikitpun dan langsung berjalan ke pintu keluar. Sebelum sampai di pintu keluar, Eryu menengok ke tempat ayahnya dibaringkan, “Selamat tinggal ayah, aku akan menjadi seorang yang berguna kelak. Aku janji!!!” Katanya dalam hati. “Kasihan sekali Er. Orang yang ia cintai telah tiada semua, bersabarlah Er.” Kata Arline dalam hati sambil menatap kepergian orang yang ia cintai. Lalu Arline menyusul berjalan ke luar tempat pemakaman.
1 jam kemudian.
“Tadaima! Aku pulang bu!” Kata Texer. “Gimana pemakamannya tadi nak?” Tanya Trishya, ibunda Texer. Keluarga Texer juga salah satu keluarga terhormat di kalangan Cora. Keluarganya bergelar Gronz, 1 tingkat di bawah Ronz. “Begitulah bu, o ia, aku punya tamu special nih bu.” Kata Texer. “Siapa?” Tanya ibunya. “Eryu.” Jawab Texer. “Ah... Nak Eryu? Apa benar?” Tanya ibunya tak percaya. “Ia bu, ini anaknya.” Kata Texer kalem. “Selamat sore tante.” Kata Eryu masih dengan nada yang pelan. “Selamat sore nak, ibu tidak menyangka kamu mau tinggal dirumah seperti ini.” Kata Trishya. “Ah... Tante merendah saja, rumah bagus seperti ini.” Kata Eryu dengan nada sedikit tertawa. “O ia Eryu, tante turut berdukacita atas kematian ayahmu ya, maaf tante tidak bisa datang, kaki tante sedang sakit. Jadi tante tidak berani berjalan jauh. Om juga sedang ada rapat dengan para petinggi di Green Valley” Kata Trishya. “Terima kasih tante.” Kata Eryu dengan nada yang kembali pelan. “Bu, bolehkan Eryu tinggal disini? Ia sudah tidak punya keluarga bu.” Texer memohon ibunya untuk mengiyakan. “Nak, itu tidak perlu kamu tanyakan. Ayah dan ibu adalah teman baik ayah dan ibunya Eryu, Ronz Ryugen sudah menitipkan anaknya kepada kami.” Kata Trishya.
“Nah Er, ingat ya, sekarang kamu tidak sendirian lagi! Kamu ga hidup sebatang kara ya! Kamu tetap mempunyai saudara, yaitu kami.” Kata Texer menghibur. “Ya.” Jawab Eryu singkat. “Nak Eryu, lebih baik kamu mandi, lalu makan, setelah itu tidurlah, kamu nampak lelah dan masih shock atas kematian ayahmu.” Kata Trishya dengan penuh perhatian. Trishya sudah menganggap Eryu sebagai anaknya, sejak kematian ibu Eryu, Trishya ikut mengurus Eryu. Rumah Gronz Trieth dengan Ronz Ryugen hanya berbeda beberapa blok saja, jadi tak heran dengan kedekatan ini.
“Baik bu, saya permisi dulu.” Kata Eryu sambil memberikan hormat, lalu pergi. “Nak, pakailah baju Texer dulu, nanti ibu ambilkan baju kamu dirumahmu.” Kata Trishya. “Terima kasih sekali bu, saya merasa sungkan dengan keluarga Gronz Trieth.” Kata Eryu sambil membungkukkan badannya. “Er, apa-apaan sih, kita ini KELUARGA!!!” kata Texer dengan nada agak sedikit tinggi. Jdarrr... Bagaikan petir menyambar di tengah hari, kata-kata Texer membuat Eryu mengingat keluarganya lagi, namun Eryu juga ingat bahwa masih ada orang yang peduli terhadap dia. “Hix...Hix...Hix... Terima kasih atas seluruh perhatian kalian.” Terdengar kembali isak tangis Eryu.
“Sudah, sudah. Itu adalah kewajiban kami terhadap almarhum orang tuamu. Sekarang lebih baik kamu istirahat Ryu.” Kata Trishya sambil memeluk Eryu dan Texer. “Kalian semua adalah anak-anak terbaikku.” Kata Trishya dalam hati.
“Ryu...” “Ryu...” satu suara yang tak asing untuk Eryu dan satu suaranya nampak asing bagi Eryu. “AYAH!!!” Teriak Ryu. “Ryu... ini ibumu, ini kali pertama kau melihatnya.” Kata ayahnya. “Ayah!!! Ibu!!!” Teriak Ryu mengisi keheningan malam. Ia baru menyadari bahwa itu semua adalah mimpi belaka. “Mimpi, hix...hix...hix...” air mata mengalir di atas pipi Eryu. Tak lama kemudian Eryu kembali terlelap di gelapnya malam karena terlalu lelah menangis satu hari ini.
“Eryu!!! Bangun!!! Sudah pagi nih, kita kan harus ke Shurzque.” Teriak Texer sambil membuka gorden ruang tamu yang ditempati oleh Eryu. “Waaaa!!!” Eryu berteriak spontan setelah ruangannya terang. “Silauuu!!! Duh... apa-apaan sih kamu, aku capek tau!” Kata Eryu dengan malas lalu menutupi matanya dengan bantal. “Er, kita tu mesti ke Shurzque, mesti mempersiapkan upacara persembahan seperti biasa.” Kata Texer sambil menggoyang-goyangkan tubuh Eryu agar bangun.
Kali ini Eryu menjawab dengan nada agak tinggi dan sedikit terkejut, “Ah??? Persembahan? Persembahan apa sih?” “Astaga ni anak, bangun mas, sekarang tu tengah bulan, kemaren Lyurenst tu udah hampir bentuk sempurna ya...” Kata Texer, kali ini sambil menarik barang-barang yang ada di atas kasur dan membuangnya ke lantai. “Ah? Apa? Lunerst? Apa lagi itu?” Jawab Eryu sambil menengkurapkan badan agar tidak silau. “LYURENST!!! Satelit kita!!! Bulan kita!!! Itu artinya sudah tengah bulan ERYU!!!” Teriak Texer yang sudah kehabisan akal membangunkan Eryu.
“Aduh-aduh, ada apa sih kalian? Kok ribut sekali?” Terdengar suara samar-samar ibunda Texer. “Ini kan masih pagi anak-anak, apa yang kalian ributkan?” Teriaknya lagi, walau agak samar-samar. “Eryu bu, dia enggak mau bangun, padahal kan kita harus mempersiapkan persembahan untuk Decem.” Kata Texer yang sedang berjalan menghampiri ibunya dan meninggalkan Eryu di tempat tidur.
“Lur...Lyu...Lyurenst??? Waaa... persembahan ke Decem!” Teriak Eryu sambil melompat dari tempat tidur dan segera bergegas keluar kamarnya. “Pagi semuanya!!!” ketika melihat Trishya dan Texer yang sedang duduk di ruang keluarga. “Pagi!” kata Trishya dengan ramah. “Masih pagi Er, tidur lagi gih!” kata Texer sambil melirik agak tajam ke arah Eryu. “Texer, enggak boleh gitu, ibu enggak pernah ajarin kamu seperti itu, maafkan Texer ya Eryu!” Ujar Trishya. “Dah, mandi sana, waktu kita sempit nih!” Perintah Texer.
Eryu segera ke kamar tempat ia tidur, dibukanya lemari pakaian. “Loh?! Ini kan pakaianku, kok bisa ada?” tanyanya dalam hati sambil mengambil satu set pakaian dan segera menuju ke kamar mandi yang ada di kamar itu.
“Waw... airnya dingin banget, segarnyaaa...” Kata Eryu dalam hati. Setelah sabunan dan membilas badannya, ia kemudian mengenakan baju yang ia ambil tadi. “Baju ini...” Kata Eryu dalam hati tanpa melanjutkan kata-katanya. Setelah terlihat rapi, ia segera menuju ke ruang keluarga. Texer sudah membawa segala peralatan yang ia butuhkan dan “Eryu, catch this!” Kata Texer sambil melempar tas hitam. “Itu peralatanmu.” Tambahnya.
“Wow, thanks bro! Let’s Go to Lyurenst!” Seru Eryu penuh semangat menjalani hari barunya.”Lyurenst? Mau ke luar angkasa? Sudah bangun belum sih?” Ledek Texer. “Eh... kok Lyurenst sih... maksud aku Shurzque. Yu pergi.” Kata Eryu dengan sedikit malu karena salah menyebut. “Eitss... sabar dong Er, kamu makan dulu, ibuku sudah masak susah-susah nih!” kata Texer. “Kamu? Enggak makan?” Tanya Eryu. “Aku sudah, kamu ke ruang makan gih, aku tungguin disini.” Perintah Texer.
Kemudian Eryu menuju ruang makan, disana telah disediakan berbagai macam makanan. Dilahapnya makanan tersebut. “Makan yang kenyang Ryu!” Terdengar suara manis Trishya. “Ya bu, terima kasih untuk semuanya.” Balas Eryu sambil melanjutkan makannya. “Tidak perlu terima kasih, anak Ryugen adalah anakku juga.” Kata Trishya.
Mendengar ucapan Trishya, Eryu terharu mendengarnya. “Betapa baik perlakuan keluarga ini terhadap...” “ERYU!!! CEPAT DONG, NANTI TERLAMBAT!!!” Tiba-tiba suara lantang Texer menyirnakan lamunan Eryu. “O ia ia, sudah selesai, tinggal cuci piring kok!” teriak Eryu tidak kalah kencang. “Sudah Eryu, kamu pergi saja, biar ibu yang mencucinya. Utamakan Decem! Itu amanat dari Ryugen untuk kamu, dan juga untuk kamu Texer.” Kata Trishya memberi nasihat kepada kedua anaknya sambil mengarahkan tangannya ke piring Eryu.“Terimakasih bu...” Kata Eryu “Kami pergi!!!” Seru mereka berdua.
Mereka berdua keluar rumah dan berjalan kaki ke Shurzque, mereka tidak mengenal yang namanya kendaraan bermotor, karena Decem membenci pengrusakan alam. Cora meyakini bahwa jika tidak mengikuti peraturan Decem, mereka akan diberi tulah dan hukum karma yang sangat hebat. Eryu dan Texer berbincang-bincang selama perjalanan, mulai dari keluarga Texer yang baik hati, sampai pada satu saat. Eryu tiba-tiba berhenti berjalan dan bertanya tiba-tiba “Tex, nanti di Shurzque ada Arline enggak?” Texer lalu mendekati Eryu dan berkata “Eh? Apa?” sambil mendekatkan kupingnya ke mulut Eryu, Texer tidak percaya dengan pendengarannya.
“Arline...” kata Eryu pelan. “Arline? Iya, kenapa? Kok tiba-tiba gitu sih??? Ehemm...” Tanya Texer dengan nada meledek khasnya yang kerap kali membuat mereka bertengkar sebentar. “Sudah deh, enggak usah keluarin jurus maut. Nanti ada Arline enggak?” Tanya Eryu penuh dengan kepenasaran. “Memangnya kenapa kalau ada Arline?” “Enggak apa-apa sih, cuma mau tanya saja.” Kata Eryu dengan mukanya yang memerah. “Yang bener???” kini lirikan ‘maut’ sang Texer menusuk Eryu. “Sudah deh... kalau enggak mau jawab juga gapapa... huh...” “Ngambek... ya deh, tak jawab... Ada Clarise.” kata Texer sambil memalingkan badannya dan kembali berjalan.
“Clarise? TEXER!!! Tunggu dong.” Panggil Eryu sambil mempercepat jalannya untuk menyusul Texer. “Maksudnya Clarise? Pacarmu itu?” Lanjut Eryu setelah berhasil menyusul. “Yup, and you know lah, dimana ada Clarise disitu ada...” “Asik!!!” potong Eryu sebelum Texer menyelesaikan kalimatnya. Lalu mereka berdua tertawa sambil melanjutkan perjalanan.
Sementara itu di Shurzque, sudah ada beberapa orang yang sedang menata ruangan untuk persembahan bulanan ke Decem, sebenarnya Decem tidak menyuruh rakyat Cora untuk memberikan persembahan, Decem hanya ingin masyarakat Cora untuk hidup sesuai dengan aturan yang telah Decem buat. Persembahan ini hanya sebagai tanda terimakasih dari rakyat Cora untuk dewa tercinta mereka. Termasuk Arline dan Clarise.
“Kok hari ini mukamu tampak cerah sih Line? Ada apa sih? Enggak curhat-curhat kita?” kata Clarise yang melihat keanehan di muka Arline. “Enggak ada apa-apa kok.” Jawab Arline sambil tetap bekerja.
Tok...Tok...Tok... suara pintu diketuk, tak berapa lama, pintu itu kemudian dibuka oleh pendatang tersebut. 2 sosok tubuh muncul di balik pintu tersebut, ternyata Eryu dan Texer. “Oh... itu ya yang membuat kamu kelihatan cerah hari ini?” Ledek Clarise. “Iih... apaan sih Rise? Sok tau ah!” Kata Arline tanpa meninggalkan pekerjaannya. “Line, itu... samperin dulu dong, sapa kek, ato ngapain kek...” Perintah Clarise. “Loh, kamu sendiri kok enggak nyamperin Texer?” Arline mengalihkan pembicaraan. “Ini baru mau, yuk kesana!” ajak Clarise sambil menarik tangan Arline yang sedang menata kain untuk menutupi meja persembahan.
“CLARISE!!! Apa-apaan sih kamu?” tanya Arline. “Sudah enggak usah cerewet deh!” Bentak Clarise. Sesampainya di depan pintu masuk, langsung saja Clarise menyapa mereka berdua, “Hai Eryu, hai sayang!” “Halo juga.” Kata mereka berdua. “Ayo masuk, kerjaan kita sudah menunggu nih!” ajak Clarise. Lalu mereka berempat segera menuju ke posisi masing-masing, Eryu bekerja bersama Texer dan Arline bekerja bersama Clarise.
Tiba-tiba, terbesit pikiran di benak Clarise. “Ah, aku ajak Texer bantuin pekerjaanku ah, terus nanti suruh Arline bantuin Eryu, biar makin dekat tuh dua anak.” Pikir Clarise. Disaat yang sama, Texer juga berfikir mirip dengan apa yang dipikirkan oleh Clarise. “Texer, sayang, bantuin aku dong, kita mesti mindahin meja ini nih, kalo aku sama Arline ga kuat kayanya.” Teriak Clarise tiba-tiba. “Iya sayang, sebentar, aku kesana.” Jawab Texer sambil menuju ke posisi Clarise. “Line, tolong kerjain kerjaan Texer dong, maaf ya, nanti kerjaan kamu biar Texer yang kerjain deh.” Kata Clarise sambil memohon.
“Ya udah deh, hati-hati angkat mejanya, berat.” Kata Clarise sambil pergi menuju tempat Eryu. Tiba-tiba Eryu merasakan belaian ringan dikepalanya. “Eh... Kamu toh Line.” Kata Eryu terkaget. “Iyah... hehehe, kamu keliatan lelah Ryu.” Kata-kata tersebut tiba-tiba keluar dari bibir mungil Arline. “Eh... ah...eeee.” Eryu terlihat sangat canggung dengan pembicaraan mereka berdua. “E...E...Eng...Enggak ah, m..mmaasa sih?” Katanya terbata-bata. “Iya ah, di dahimu banyak keringat, sini aku lap keringatmu.” Lalu diambilnya tissue yang ada di saku baju Arline, di ambil secarik tissue tersebut dan dilapkan ke dahi Eryu, Eryu yang semula ingin mengambil dan mengelap sendiri ternyata salah pengertian. Tangan Arline sudah mendarat di dahi Eryu, dan Eryu tanpa disadari memegang tangan sang pujaan hati yang berada di dahinya. Kejadian itu cukup lama sampai “Ehh... maa...maaaaffin aku Line.” Kata-kata tersebut terlempar dari mulut Eryu. “Maaf?” Tanya Arline. “Eh.. enggak deh, enggak jadi, ayo kita kerja lagi.” Kata Eryu sambil memalingkan wajahnya. Sebenarnya pikirannya masih tetap berada di wajah cantik Arline.
Hari sudah larut, langitpun sudah berubah menjadi gelap. Di Shurzque hanya tinggal 4 sekawan. Texer mendapat tugas untuk mengontrol semua barang dan menyegel Shurzque dengan mantra agar tetap suci sampai waktu akan digunakan. “Ah... capenya...” Keluh mereka berempat. “Tex, aku tunggu di pohon brinxin di taman depan ya! Ada yang mau ikut?” Tanya Eryu. “Tidak, aku ingin menemani Texer, kamu temenin Eryu gih Line.” Kata Clarise.
Di bawah pohon brinxin, Eryu dan Clarise tidur-tiduran berdua, menikmati indahnya langit saat itu. “Eryu...” panggil Arline pelan. “Eryu... Eryu...” panggilnya lagi. Ternyata Eryu tertidur saking lelahnya. Melihat itu, Arline duduk, dan dibelai kepalanya, dikecup kening Eryu pelan dan membisikkan “I love you Ryu.”
Eryu terlarut dalam tidurnya. “Eryu...” Kata-kata itu kembali muncul dalam mimpi Eryu, namun kali ini suaranya berbeda dengan yang pertama. “Siapa itu?” tanyanya. “Eryu, kau... Cora...Ryuukachii.” Kata suara tadi. “Apa maksudmu?” Tanyanya.
“Eryu, bangun... kita pulang.” Kata Texer. “Ah... Apa? Sudah kelar? Gimana segelnya?” Tanya Eryu gelagapan. “Sudah-sudah, ayo pulang, sebelumnya kita antar mereka dulu ya.” Ajaknya. Selama perjalanan menuju rumah Arline dan Clarise, hati Eryu penuh dengan tanda tanya.
“Cora? Aku? Kenapa dengan aku, kenapa dengan Cora? Ryuukachii? Apa lagi itu?” pikirnya dalam hati. Karena terlalu serius dengan pikirannya, ia tidak merasakan jalan yang begitu jauh. Sesampainya dirumah Texer, mereka disambut Trishya dan Trieth. “Ayah... Kapan pulang?” Tanya Texer ke ayahnya. “Malam om, malam tante.” Sapa Eryu dengan nada yang rendah. “Malam, ayah baru saja pulang, baru sempat mandi saja. Sudah malam, lebih baik kalian mandi, makan lalu istirahat.” Kata Trieth.
“Maaf om, maaf tante, aku lelah, bolehkah aku sehabis mandi langsung istirahat saja?” tanya Eryu. “Oh, baiklah, selamat beristirahat. O ya Ma, nanti aku mau bicara ya.” Kata Trieth.
Eryu menuju kamarnya, mengambil baju, mandi cepat-cepat lalu segera menuju ke tempat tidur. Di atas ranjangnya, ia berfikir tanpa henti akan mimpi yang ia dapati setiap tidur, sudah 2 hari mimpi yang mirip dialaminya. Tiba-tiba rasa ngantuk mulai menguasainya, namun ini bukan ngantuk yang biasa, ia merasakan ada yang memaksanya untuk tidur. “Eryu...” “Apa? Suara ini lagi?” pikirnya dalam hati. “Eryu, hanya kau yang bisa... Cora ditanganmu. Satu lagi hanya Ryuukachii yang dapat membantumu.” Eryu terbangun dari tidurnya. “Ryuukachii... apakah itu?” tanyanya dalam hati, kemudian ia kembali pergi ke alam keduanya dengan tenang.
Sementara itu di kamar Trieth dan Trishya. “Tadi mau ngomong apa pa?” tanya Trishya. “Hmm, soal rapat di Green Valley ma.” Jawabnya. “Itu rapat apa sih? Kok dadakan begitu? Sayang aku tidak dapat menghadirinya, karena kakiku ini.” “Aku juga bingung sebelumnya, seluruh petinggi di planet ini dikumpulkan karena, menurut ‘mereka’ Black Hole yang dulu kita segel dan kita buang keluar galaxy ini kembali mendekat dengan kekuatan hisap yang jauh lebih besar.” Trieth memberi penjelasan. “Mereka?” “Ya, para Forellers.” “Forellers? Orang-orang hebat yang setingkat dengan Ronz itu yah? Aku hanya mendengar gosip tentang mereka yang diangkat setara dengan Ronz.” Tanya Trishya dengan sedikit kaget. “Ya, kamu benar, mereka diangkat karena keahlian meramal masa depan yang akurasinya 99,9% itu. Dan mereka meramalkan akan ada satu orang dengan Great Animus yang dapat menyelamatkan kita.” “Maksudmu, hanya satu orang yang dapat menyegel Black Hole itu?” Tanya Trishya yang agak bingung dengan perkataan suaminya. “Bukan, kekuatan Great Animus dan pemiliknya serta seluruh masyarakat Cora tidak dapat menyegel kembali kekuatan dasyat Black Hole yang baru ini, namun Great Animus ini dapat menolong kita pergi mencari tempat tinggal baru.” Trieth memberi penjelasan kepada istrinya. “Great Animus? Isis maksudmu?” Tanya istrinya lagi. “Isis... sekarang isis termasuk Elite Animus karena penemuan para Forellers. Isis, Hecate, Paimon, dan Inana sekarang adalah Elite Animus.” Jawabnya. “Apa??? Lalu Great Animus yang menggantikan posisi Isis apa? Bukankah kita hanya memiliki 4 macam animus?” Tanya Trishya. “Animus ini memang tidak terkenal dikalangan masyarakat Cora, namun apa kamu pernah mendengar bahwa Ryusaki, ayah dari Ryugen yang menyegel Black Hole itu mempunyai 5 buah Animus?” “Apa? Hironz Ryusaki? 5 macam Animus?” Trishya terus bertanya tanpa henti. “Ya, sepeninggalan Hironz Ryusaki, Animus tersebut ikut terkubur bersama dengan gelar Hironz yang di milikinya. Bahkan Ryugen, anaknya, hanya pernah mendengar bahwa ayahnya memiliki 5 Animus.” Jawabnya. “Hironz Ryusaki bersama Hironz yang lainnya mempertaruhkan nyawa untuk menyegel Black Hole atas jasanya, keturunannya mendapat gelar Ronz dan gelar Hironz hanya diberikan untuk mereka yang telah menyegel” Tambahnya. “Apakah para Forellers tahu banyak tentang Animus tersebut?” Tanya Thrisya lagi. “Tidak banyak, mereka hanya mengetahui sedikit tentang Animus itu. Mereka hanya memberi tahu animus itu adalah. Ancient Animus, Ryuukachi...”
The New World Part 3: Curious Dream
Label: Story: The New World
The New World Part 2: SMURF FOR ALL BELATTO
“Hoaammm… duh… cape banget nih!” Keluh Denzel. “Sudah seharian menambang aku tidak mendapatkan satu ore pun!” Tambahnya. “Sudahlah, yang sabar saja…” Sandrant menenangkannya. “Sudah yuk, kita pulang saja, percuma aku menambang.” Denzel tetap saja dengan keluhannya. “Baik sayang, ayo kita kembali ke mobil, jangan lupa membawa Drill Unit.” Kata Sandrant mengingatkan. Drill Unit adalah robot kecil yang mempunyai tangan bor, yang dapat mengebor hingga kedalaman 1 kilometer dibawah tanah.
Sementara itu, di Tilverking, salah satu nama kota di planet tersebut. Traine sedang bekerja di SMURF atau Super Mining Unit Robot Factory bersama Lien dan beberapa ahli robot. Mereka sedang sibuk membuat robot yang akan menunjang kehidupan mereka. Bangsa Belatto adalah bangsa yang sangat hebat, mungkin mereka adalah bangsa yang paling maju diantara bangsa yang ada di seluruh alam raya ini. Pekerjaan sebagian rakyatnya adalah penambang, mereka juga ditunjang dengan alat-alat yang sangat canggih.
“Kita mendapatkan pekerjaan baru.” Kata Traine. “Kali ini Meztand yang memberikan perintah ini.” Lanjutnya. Meztand adalah Kepala Bangsa Belatto. “Kita ditunjuk langsung karena Meztand telah melihat hasil kerja kita dan menurut dia, robot kita adalah yang terbaik dibanding buatan MEF (Miner Equipment Factory) dan LMRC (Land Miner Robot Corporation).” Kata Traine dengan bangga.
“Kita juga ditunjuk untuk menjadi pusat riset robot, atau National Robot Research Centre (NRRC). Kali ini tugas kita adalah membuat Robot untuk berburu.” Kata Traine sambil menyembunyikan kebingungannya. “Berburu? Kita ini adalah bangsa penambang, berburu bukanlah pekerjaan kita!” Kata Lien keheranan. “Tenang Lien, aku juga tidak tahu apa maksud dari Meztand. Tapi, apapun maksudnya, kita harus mengerjakannya.” Sahut Traine tenang.
Traine dan Lien adalah teman sejak kecil, Lien terkenal dengan sifat emosionalnya, sedangkan Traine selalu berpikir dengan kepala dingin. Menurut teman-temannya, termasuk Sandrant dan Denzel, Traine dan Lien sangatlah cocok, bahkan dari tingkah laku mereka, mereka nampak seperti orang pacaran. Namun entah mengapa, sampai sekarang mereka tidak juga menjalin hubungan secara khusus.
“Lalu apa yang harus kit…”, ‘bbrrrrrrrmmmmmm…chiittt… brrrrrr’ suara raungan knalpot. “Kami pulang!!!” Terdengar suara Denzel dan Sandrant memotong kata-kata Lien. “kita lakukan?” Sambung Lien. “Halo, halo, kalian sedang apa??? Kelihatannya ada project baru ya???” kata Denzel. Seluruh orang yang ada disitu mengangguk tanda mengiyakan. “Project apa???” Tanya Sandrant ingin tahu. “Project yang aneh, kami belum begitu paham maksud dari Master Mesztand.” Kata Traine. “Dan satu lagi, SMURF secara resmi menjadi NRRC.” Sambung Lien.
“Apa??? Master Meztand???” Tanya Sandrant dan Denzel tidak percaya. “Ya!” Jawab Lien singkat dibarengi dengan anggukan kepala Traine. “Wah… kompak banget kalian! By the way, itu kabar yang sangat-sangat menyenangkan, sekaligus mengagetkan.” Kata Sandrant. “Satu lagi, apa itu NRRC? Aku baru mendengar singkatan itu.” Tambahnya. “Katanya Traine sih, NRRC itu National Robot Research Center.” Kata Lien. “Den, aku pinjam mobilmu ya, aku ingin menghadap Meztand, aku ingin mengklarifikasi sekaligus bertanya maksudnya. Tadi aku hanya ditelepon oleh sekertaris Meztand.” Kata Traine dengan suara mengecil karena sudah berlari menuju mobil.
“Sebenarnya ada apa ya?” Tanya mereka semua dalam hati. “Mengapa secara tiba-tiba begini?” mereka semua bertanya-tanya. Di dalam mobil, Traine terus kebingungan dengan kata-kata sekertaris Meztand yang memberitahunya.
Flashback
Kringg…kringg…
“Halo.” Jawab Byon, salah satu karyawan disitu.
“Apa benar ini SMURF?” tanyanya.
“Ya, benar ini Super Mining Robot Unit Factory, dengan Byon disini. Ada yang bisa saya bantu?” Jawab Byon.
“Saya Rennmy, sekertaris Master Meztand, apa Saudara Traine ada disitu?” tanyanya.
“Tunggu sebentar nona, saya panggilkan Bapak Traine dulu.” Jawab Byon.
“Baiklah, saya tunggu.” Jawab Rennmy.
Byon kemudian memencet hold, dan menekan 01.
Diruangan Traine,
Kringg... Kringg...
“Ya Byon, ada apa?” Tanya Traine.
“Channel 5, Nona Rennmy menunggu anda.” Jawabnya.
“Rennmy? Siapa dia?” Tanya Traine singkat.
“Sekertaris dari Master Meztand katanya, aku juga tidak yakin.” Jawab Byon.
Traine kemudian menekan channel 5,
“Disini Traine, ada yang bisa saya bantu?” Sapa Traine dengan sopan.
“Saya Rennmy dari kenegaraan, tepatnya sekertaris dari Master Meztand.” Jawab Rennmy menanggapi pertanyaan Traine.
“Saya diberi perintah oleh Meztand untuk memberi tahukan anda, bahwa SMURF ditunjuk secara resmi untuk menjadi NRR, Master sudah melihat pekerjaanmu, dan ia sangat terpukau. Sebagai pilot project sebagai NRR, Master memberikan tugas membuat robot untuk berburu.” Tambah Rennmy.
“Apa? Berburu? Apa tidak salah? Bukan untuk menambang?” Tanya Traine penuh dengan tanda tanya di benaknya.
“Saya juga kurang tahu, saya hanya diperintah untuk memberitahukan ini, untuk keterangan lebih lanjut, anda bisa menghadap Meztand secepatnya, ia menunggu kedatangan anda. Terima kasih” Jawab Rennmy.
Tut...tut...tut...
End of flashback
“Oh Neiro, apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin hanya karena melihat robot buatan SMURF.” Pikir Traine. Seperti Cora dan Manusia, Belatto juga mempunyai Tuhan, Tuhan mereka adalah Neiro.
Sementara itu di Bleu Palace, tempat Meztand tinggal. “Rennmy, apakah kamu sudah menghubungi Traine?” Tanya Meztand. “Semoga alibiku tidak tercium oleh anak-anak SMURF.” Pikirnya dalam hati. “Sudah Master!” Sahut Rennmy. “Maaf sebelumnya pak, tapi sebenarnya ada apa?” Tanya Rennmy penuh dengan tanda tanya. “Hmm... Tidak ada apa-apa.” Jawab Meztand singkat. “Ooohhh... kalau begitu, saya keluar dulu Master.” Ijin Rennmy.
Meztand terlihat begitu kebingungan. Semua ini berawal ketika ia mendapat laporan dari Skylancer Unit yang dikirim untuk meneliti tentang kehidupan sekitar. Ini dilakukan oleh Meztand karena Belatto adalah bangsa perusak dan bangsa pengembara. Mengapa disebut perusak? Karena Belatto adalah bangsa penambang, dampak terbesar adalah kehancuran sebuah planet, atau tepatnya membuat planet itu mati. Setelah mendapati planet itu mati, maka para Belatto pun berpindah ke planet lain.
Flashback
Bip...bip...bip
“Meztand, Skylancer Unit memanggil.” Kata salah satu operator Universe Division (salah satu divisi yang dibentuk untuk meneliti ruang angkasa dan planet-planet sekitar)
“Sambungkan.” Perintah Meztand.
“SL-01, Skylancer Unit kepada Bleu Palace.” Kata Liefya, kapten yang ditunjuk khusus untuk Soulverse Project ini.
“Disini Bleu Palace, dengan Meztand disini, ada apa Liefya? Apakah ditemukan tambang di planet lain?” Jawab Meztand.
“SL-01 melapor, negative Master.” Jawab Liefya.
“Lalu? Ada apa?” Tanya Meztand.
“SL-01 melapor, aktifitas dari Soulard merendah, intensitas cahayanya sudah berkurang, disini terlihat sangat jelas.” Lapor Liefya.
“Jangan bergurau, kami masih tetap merasakan sinar Soulard yang menyengat disini.” Bantah Meztand sambil tidak mempercayainya.
“SL-01 melapor, itu terjadi karena setelah kami teliti, Oxirt yang menyelimuti Planet Ouvier sudah bolong, dan itulah penyebabnya makhluk yang hidup di planet Ouvier tetap merasakan panas yang sama.” Jawab Liefya.
“Apa? Soulard akan hancur? Galaxy ini akan lenyap selamanya, apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan bangsa ini?” Pikir Meztand dalam hati.
“Baiklah kalau begitu, Soulverse Project dihentikan, kembali secepatnya!” Perintah Meztand.
“Siap! Skylancer Unit segera kembali.” Jawab Liefya
End of flashback
Tanpa terasa, Traine sudah sampai di depan Bleu Palace. “Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?” Tanya seseorang dengan pakaian serba biru, dan sepucuk pistol menggantung di pinggangnya, di lengan kanannya ada lambang Ozirt Security Organization. “Saya Traine dari SMURF, saya ingin bertemu dengan Meztand.” Balasnya. “Apakah anda sudah membuat janji?” Tanya Ozirt tersebut. “Belum!” jawab Traine singkat. “Maaf, jika belum membuat janji, anda tidak dapat masuk ke dalam, silahkan pulang.” Jawab Ozirt.
Sementara itu di dalam Bleu Palace, di Security Division Room. Meztand sedang melihat-lihat cctv, tiba-tiba matanya terarah ke satu layar yang terhubung dengan Front Gate. Ia melihat mobil bertuliskan SMURF, dan seseorang dengan baju dinas SMURF. Dengan segera ia menyuruh operator untuk men-zoom ke arah pemuda tersebut. “Zoom ke arah name tagnya!” Perintah Meztand. TRAINE, nama itu tertera di kemeja yang digunakan pemuda itu. “Hubungkan dengan Ozirt yang menjaga pintu masuk!” Perintah Meztand sekali lagi.
Tinit...tinit...
“Ozirt disini.” Jawab Ozirt tersebut, Ozirt memiliki kode etik untuk tidak menggunakan namanya ketika bertugas. “Suruh orang itu masuk, jangan halangi dia.” Kata Meztand. “Tapi dia belum membuat janji dengan anda.” Jawab Ozirt. “Sudah, tidak usah banyak tanya, suruh saja dia masuk!” Perintah Meztand dengan kesal.
“Master Meztand menunggu anda. Pak!” Kata Ozirt mengejutkan Traine. “Apa tidak salah? Master menungguku? Sebenarnya ada apa? Sampai-sampai Master menungguku.” Pikir Traine dalam hati dengan penuh kebingungan. “Terima kasih, Zirt!” balasnya.
Brmmm...brmmm...
Traine menginjak gas mobilnya, mobilnya melaju ke arah East Park Area. Ia memarkirkan mobilnya disitu. Bruukkk... suara pintu mobil yang ditutup, segeralah Traine menuju ke dalam Bleu Palace. “Wow... ternyata bangunan ini benar-benar hebat. Tidak menyangka aku akan menginjakkan kaki di bangunan ini.” Pikirnya dalam hati.
Sesampainya di pintu masuk, tiba tiba Traine mendengar suara seorang wanita. “Welcome to Bleu Palace, please put your eye on scaner to enter the Palace.” Kata wanita itu. “Oh Neiro, gimana mau masuk nih, dimintain retina segala, aku ga bakal bisa masuk nih.” Pikir Traine sambil menggaruk-garuk kepala. Belum selesai berpikir, tiba-tiba suara itu berubah. “ Welcome to Blue Palace Mr. Traine, silahkan masuk dan langsung menuju ke ruang tamu Master Meztand.” Kali ini terdengar suara laki-laki yang agak enteng.
Scaner yang semula menyala tiba-tiba berhenti mengeluarkan sinar birunya, menandakan bahwa scaner itu tidak berfungsi. Traine mengarahkan dirinya ke pintu masuk. Jleeezzzz... Pintu tersebut langsung terbuka. Traine menegapkan diri, melangkahkan kakinya untuk masuk menuju bangunan yang fantastis itu. Begitu banyak ruangan yang ada di dalam bangunan itu. Ia melihat Waiting Room, Security Division Room, Robot Research Room, Universe Division Room, sampai akhirnya ia menemukan Guest Room.
Tok...Tok...Tok
Terdengar suara pintu diketuk dan tak lama pintu itu dibuka. Meztand yang duduk didalam melihat sosok hitam disitu, dan lama kelamaan terlihat wajah Traine. Traine membuka pintu itu, lalu dilihatnya Master Meztand yang sedang duduk disitu, langsung dibungkukan badannya sambil berkata “Traine Hardnet menghadap Master!” “Silahkan duduk!” Master Meztand menyuruh Traine sambil mengarahkan tangannya ke arah kursi yang berada di depannya. “Tidak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri.” Canda Meztand. “Bagaimana mau dianggap rumah sendiri, masuk sini saja penuh perjuangan...” Kata Traine dalam hati.
Tanpa basa-basi, Traine langsung menuju ke kursi yang terletak tepat di depan kursi yang diduduki Meztand. “Ingin minum apa? Hangat atau dingin?” Tanya Master kepada Traine. “Coke saja.” Jawab Traine singkat, dengan muka yang penuh dengan masalah. Dibenaknya masih saja terpikirkan kata-kata berburu. “Berburu...berburu...berburu...” suara itu keluar tanpa jelas siapa yang mengatakannya, dan hanya Traine saja yang dapat mendengarnya. Kemudian Master Meztand berkata ke robot yang dibuat khusus untuk menyiapkan makanan dan minuman cepat saji melalui remot kontrol yang disediakan khusus untuk Meztand. “One Coke and one Vodka, Fazta!”
Dalam sekejap, minuman yang dipesan ada di atas meja. Dengan tangan yang fleksibel dan dapat memanjang, Fazta menaruh minuman-minuman itu tanpa menggerakkan roda sedikitpun. “Silahkan diminum.” Kata Meztand dengan ramah. Beberapa saat setelah berkata, muka Meztand berubah, kali ini muka Meztand yang terkenal dengan senyumannya itu berubah menjadi raut muka yang serius, tanpa senyuman sedikitpun. Lalu, Meztand membuka pembicaraan serius itu. Aura sekitarpun berubah dengan seketika.
“Saudara Traine, apakah kamu sudah menerima telepon dari sekertaris saya?” Tanya Meztand dengan serius. “Sudah Master.” Jawab Traine dengan singkat. “Langsung to the point saja. Mengenai NRRC...” “NRRC, sebenarnya lembaga apa itu?” Potong Traine. “NRRC adalah lembaga yang kami dirikan untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada.” Sambung Meztand. Kemudian Traine yang sedang minum tersedak mendengar perkataan Master Meztand. “Uhhhkkk... Kemungkinan? Kemungkinan apa Master?” Tanya Traine penuh dengan kepenasaran. “Sebenarnya NRRC adalah gabungan dari seluruh perusahaan robot pertambangan yang ada di Planet Ouvier, dan kami menunjuk SMURF untuk menjadi kepala NRRC.” Kata Meztand meneruskan perkataannya. “Ah? Apa maksudnya?” Tanya Traine. “Di dalam NRRC, nama perusahaan yang dikenal hanyalah SMURF, itu berarti bahwa MEF, LMRC, dan yang lainnya berada dibawah naungan SMURF.” Kata Meztand dengan raut muka yang lebih santai.
“Master, apa maksud dari kemungkinan yang ada? Tadi Master berkata seperti itu.” Desak Traine. Meztand menarik napas dalam-dalam, “Baiklah... Tapi ini tidak boleh sampai tersebar ke luar, hanya NRRC dan pemerintah saja yang boleh tahu, aku tidak ingin orang lain khawatir.” Pinta Meztand. “Baiklah!” Traine menjawab dengan singkat, padat, dan jelas. Kemudian Meztand menjelaskan dengan rinci. “Kami, pemerintah, pernah mengirim Skylancer Unit keruang angkasa untuk melakukan Soulverse Project, project ini mula-mulanya adalah project untuk melihat keadaan planet sekitar. Kau Tahu kan, kita ini adalah bangsa yang nomaden.” Kata Meztand. Traine pun mengangguk tanda mengetahui. “Namun semua itu berubah 180¬0, setelah SL-01, salah satu pesawat yang dikirim untuk project itu memberikan kabar, bahwa cahaya Soulard, matahari kita sudah mulai berkurang, atau dengan kata lain, Bezig Galaxy akan segera mati.” Sambung Meztand sambil menghela napas, dan minum sedikit Vodka yang berada di atas meja. “hmm... Kamu tahu kenapa kita tetap merasakan intensitas cahaya yang sama?” Tanya Meztand. Traine menggeleng tanda tidak mengerti. ”Oxirt, pelapis planet Ouvier ini sudah bolong akibat kita terlalu sering menggunakan alat berat, itu akibat dari polusi.” Meztand memberitahunya.
“Sebagai project kalian, untuk melindungi segenap bangsa Belatto ini, aku ingin kalian untuk membuat robot pertempuran yang bisa menghadapi segala medan. Itu adalah tugas utama NRRC.” Kata Meztand. “Aku ingin kalian membuat robot yang dapat menyerang dari jauh dan dari dekat. Kalian juga tidak akan mengerjakan di sini, namun, kami sudah membangun pabrik yang khusus untuk kalian, yang berada di pulau Maxine.” Tambahnya. Lalu Meztand berdiri dan berkata “Dengan ini NRRC dibuka dan, project ini kuberi nama MAU Project!” Kata Meztand dengan tegas. “Master, apa maksud dari MAU itu? Dan apakah berburu yang kau maksudkan adalah ini? Berburu planet baru demi kehidupan kita?” Tanya Traine penasaran “Ya, itu benar! Karena kita akan membuat robot yang besar dan itu untuk pertempuran, maka robot itu kuberi nama Massive Armor Unit atau kusingkat dengan MAU.” Kata Meztand diiringi dengan berdirinya Traine.
“Baiklah, itu semua yang ingin aku bicarakan. Berjuanglah Traine, bersama the new SMURF di bawah naungan pemerintah. Aku mengharapkan yang terbaik dari NRRC ini.” Kata Meztand dengan muka yang lebih tenang lagi. “Baik, demi Belatto, saya berjanji akan melakukan yang terbaik bersama tim. Permisi Master.” Kata Traine.
Traine berjalan keluar ruangan tersebut, ia langsung mengarah ke parkiran mobil. Setibanya di pintu keluar, tiba-tiba Traine berhenti. “Ya! Aku akan melakukannya, bersama dengan rekan kerja baruku!” Katanya dalam hati dengan penuh semangat. Lalu dikepalkan tangannya, diarahkan tangannya ke dada, lalu ia kembali berjalan.
To be continue
Label: Story: The New World
The New World Part 1: What Should We Do???
Bumi, 2220. Seoul, Korea. Suasana tegang tengah meliputi para ilmuwan dunia. Para ilmuwan berkumpul disini untuk mendiskusikan masalah yang akan menimpa Bumi. Ilmuwan yang hadir di Seoul antara lain Prof. Jefferson dari Amerika, Prof. Nakamura dari Jepang, Prof. Korano dari Afrika Selatan, Prof. Thomas dari Indonesia dan Prof. Ahn Myung Bo dari Korea. Mereka berkumpul untuk membicarakan persoalan tentang keberadaan bumi.
Menurut ramalan para ilmuwan, bumi akan hancur sekitar 5 tahun dari sekarang. Komet akan menabrak bumi, karena pada 5 tahun yang akan datang, lintasan Bumi akan berhimpit dengan lintasan komet itu, dan menyebabkan terjadinya ledakan yang dasyat yang dapat menghancurkan Bumi.
Mendengar kabar tentang kehancuran Bumi, penduduk Bumi menggila. Mereka tidak kuasa untuk menerima kenyataan pahit yang akan menimpa mereka. Seluruh Negara di Bumi ini dengan serentak bekerja sama untuk menyelesaikan ini, bahkan Negara yang awalnya bermusuhan menjadi satu untuk menyelesaikan persoalan ini.
“Apa yang harus kita lakukan???” Tanya Jeff. Perdebatan yang tidak berujung dengan seketika berhenti. “Ini adalah kepentingan dunia, mengapa kalian hanya mementingkan diri kalian sendiri???” tambah Jeff. Kembali mereka terdiam. “Transplantasi otak! AI” Nakamura memecah keheningan.
Nakamura berharap dengan transplantasi otak dapat menyelamatkan kehidupan manusia, dan dengan AI dapat menghidupkan orang-orang hebat yang telah tiada dalam wujud lain. “Transplantasi katamu??? Tranplantasi kemana?” Tanya Korano. Nakamura terdiam sejenak, lalu berkata “ROBOT! Ya, robot!”
Kembali Nakamura memberikan titik terang untuk keberlangsungan hidup manusia. “Akankah kita mempunyai waktu yang cukup untuk membuat robot?” Tanya Korano. Sebenarnya ini adalah pertanyaan bodoh, di tahun 2220 untuk membuat sebuah badan robot yang kompleks hanya membutuhkan 2 bulan saja. “Jelas saja, kita dapat membuat satu badan robot hanya dalam 2 bulan!” Tandas Jeff.
Ternyata, Korano berfikir lain, “Aku tahu itu, tapi itu hanya sebuah robot biasa, robot yang memakai chip, sedangkan kita ingin menggunakan otak.” “Belum lagi kita juga harus memikirkan bahan pelapis tahan panas dan komponen dalam yang lebih kompleks!” tambah Thomas. Mereka selalu berfikiran sama, mereka adalah teman baik saat mengambil S-3 di MIT.
Hari sudah semakin larut, namun belum juga ada kata sepakat dari perdebatan ini, malahan perdebatan ini semakin panas. Mereka sudah sangat lelah, namun mereka masih saja berusaha untuk menemukan titik terang. Sampai satu orang meminta break time, karena terlalu jenuh dengan perdebatan ini. “Sekarang, hari sudah semakin larut, sebaiknya kita beristirahat sejenak, melepas segala penat kita.” “Baiklah, kapan kita lanjutkan?” Tanya yang lain. “2 hari lagi.” Usul Ahn
Setelah semua mengiyakan usul dari Ahn, satu demi satu dari mereka pergi meninggalkan tempat pertemuan untuk menuju hotel yang mereka tempati. Mereka tidak dapat beristirahat dengan tenang, sampai-sampai ada yang bermimpi tentang kehancuran Bumi tanpa usaha dari manusia.
Ayam sudah berkokok, bagaikan ketukan pintu yang membangunkan mereka. Kilau mentari menyinari mata mereka. Seperti yang telah dijanjikan, hari ini adalah hari tenang, kesempatan ini benar-benar dilakukan Thomas untuk berjalan-jalan, maklum baru pertama kali ke Korea. Namun, ditengah kesenangannya, ia tetap memikirkan nasib dunia.
“Ahh… mengapa ini harus terjadi? Aku tidak menduga hal ini akan benar terjadi.” Kata Thomas dalam hati. Ditengah perjalanannya, ia melihat sebuah toko kerajinan fermium yang kecil. Thomas tertarik dengan hasil yang dibuat oleh sang pengrajin, maka masuklah ia ke dalam toko tersebut. Di dapur pengrajin, ia melihat warna merah menyala, ternyata itu berasal dari fermium yang sedang ditempa pengrajin itu. Tiba-tiba dia berfikiran untuk menggunakan fermium sebagai bahan dari robot tersebut. Lalu dia berlari ke jalan raya, menyetop taksi, dan langsung bergegas menuju hotel.
Sekembalinya ke hotel, segera ia membuka referensi tentang fermium, dengan terkejut, ia melihat bahwa fermium meleleh dalam suhu 16000C. “Jika semua dibuat dari fermium, tentu saja kapal pengangkut tidak dapat membawa banyak muatan. Bahan apa yang tepat?” Keluh Thomas.
Hari baru sudah datang, Thomas merasa semangat karena menemukan hal yang mungkin dapat menjadi titik terang dari kegelapan masalah ini. Setelah bersiap-siap, Thomas pergi ke laboratorium bawah tanah yang dibuat khusus untuk menyelesaikan kasus ini. Mereka kembali berkumpul, Thomas mengemukakan tentang ide yang ditemukannya kemarin. Thomas menjelaskan bahwa fermium ternyata bahan yang baik untuk bahan dasar dari badan robot tersebut adalah Fm, atau fermium. Thomas juga mengemukakan kekurangan fermium sebagai bahan dasar, yaitu bobot yang terlalu besar untuk sebuah robot.
Beberapa ilmuwan mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju dengan hal itu. “Aku kurang setuju dengan idemu Thom.” Ahn menyelak. “Kenapa? Bukankah itu terobosan bagus?” Tanya yang lain kebingungan. “Memang ide itu bagus, aku mengakuinya. Tapi tubuh robot yang biasa kita buat dari besi dengan suhu 2000C, komponen dalam saja sudah rusak, bahkan ada yang terbakar.” Balas Ahn.
Mendengar perkataan Ahn, para ilmuwan lain berfikir dua kali untuk menyetujui gagasan yang dianggap cemerlang sampai saat ini. “Menurut buku referensi ini, titik leleh dari fermium tidak jauh berbeda dengan besi, dan perlu diingat, fermium adalah salah satu inductor yang baik, itu artinya panas akan lebih cepat diserap.” Tambah Ahn.
Para ilmuwan bertambah gelisah, seolah titik terang yang telah ditemukan itu kembali meredup, menghilang tanpa jejak. “Ahh… itu dia!!!” Teriak Nakamura memecah keheningan ruangan. Yang lain dengan spontan kaget mendengar teriakan itu.
“Ada apa??? Jangan mengagetkan gitu dong! Nanti kalau salah satu dari kita ini terkena serangan jantung, kita juga kan yang repot!” Canda Korano. “Aku baru ingat, SILIKON!!! Senyawa itu dapat menyelamatkan kita!” Sahut Nakamura dengan semangat.
Nakamura baru ingat, sewaktu duduk di bangku kuliah, ia pernah melakukan percobaan tentang silikon, lebih tepatnya pelelehan silikon. Dengan suhu yang sangat tinggi sekali pun, silikon tetap berwujud seperti itu dan komponen yang ada di dalamnya tidak rusak sama sekali.
“Lapisan dalam robot akan kita lapis dengan silikon padat, itu dapat menjaga suhu komponen robot bagian dalam agar tetap stabil dan dibagian kepala kita melapisi dengan dua lapisan silikon.” Nakamura memberi penjelasan.
Setelah memberi penjelasan yang cukup padat, Nakamura mengusulkan untuk melakukan percobaan tentang silikon tersebut, walau sudah pernah melakukan percobaan yang sama, namun Nakamura ingin memastikannya sekali lagi. ”Baiklah, besok jam 9 pagi di Machines and Robots Corp.” Kata Ahn diiyakan oleh yang lain.
Tanpa terasa hari sudah malam, merekapun sudah sangat lelah. Bahkan salah satu dari mereka ada yang sudah tertidur pulas di atas meja percobaan. Tidak tega melihat teman mereka seperti itu, Jeff meminta agar pertemuan itu diakhiri saja.
Mentari kembali bersinar, hangatnya pagi mengenai tubuh Jeff. Mata Jeff masih terasa lengket. “Aduuhh… cape banget sih! Habis ini ada pertemuan lagi, betapa beratnya persoalan ini! GOD HELP ME!!!” Keluh Jeff. Yang mengeluh tidak hanya Jeff seorang, namun semuanya merasa lelah dengan semua persoalan ini.
“Siapkan semua peralatan! Check kondisi mesin!” Teriak salah satu pegawai Machines and Robots Corp. “Baik pak!!!” Teriak para engineer.
“Wah, ribet juga yah percobaannya. Mesti bikin bola berongga dulu, masukin silikon, sama masukin chip computer.” Kata Ahn. “Sudah, jangan berisik, kita lihat saja nanti hasilnya.” Sahut Nakamura mendiamkan Ahn.
1jam sudah berlalu, bola yang diinginkanpun sudah berada didepan mata mereka. Silikon padat yang dibentuk sedemikian rupa dimasukan ke dalam bola sehingga menutupi seluruh permukaan bola, dan bagian terakhir adalah memasukan chip computer.
“Sekarang saatnya membuat senter merah nih, hahaha.” Canda Nakamura. “Tolong set temperature di 2000K dan tolong masukan ini juga, set waktu selama 1 hari. Terimakasih.” Pinta Nakamura. Karena waktu pekerjaan yang cukup lama, salah satu dari mereka mengusulkan untuk pergi makan malam bersama dan setelah itu kembali ke hotel mereka.
Di dalam perjalanan, untuk pertama kalinya mereka terlihat lepas, terlihat tanpa beban. “Wah, kalau ini berhasil kita tinggal pusing membuat AI yang super nih!” kata Korano. “Ia ya, aku sudah ga sabar untuk melihat hasilnya, eh… ngomong-ngomong, design robot sudah ada belum?” Tanya Thomas. “Kalau design sih gampang, temanku seorang designer manga, khususnya di bidang mecha, dia pasti bersedia.” Kata Nakamura. Tanpa terasa, mereka sudah berada di depan pintu restaurant.
Setelah membayar taxi, mereka turun dan melihat sebentar ke arah langit. “Akankah kita tetap bisa melihat langit nan indah lagi?” Kata mereka di dalam hati. Setelah itu mereka berjalan ke pintu masuk. Dua wanita cantik menunggu mereka, dan membukakan pintu masuk. Dicarikannya tempat duduk untuk mereka belima.
“Disana kosong Pak!” kata salah satu sang wanita seraya menunjuk tempat kosong. “Terima kasih!” Kata mereka serempak. Sang wanita tadi memberikan daftar menu. Thomas memperhatikan dengan seksama wanita itu sejak pertama melihatnya. “Wajah nan cantik, rambut hitam bersinar, tubuh yang indah, ramah pula!!! OMG!!! This girl so perfect. Akankah kelak tetap ada wanita seperti ini???” Pikir Thomas dalam hati. “Thom, kamu pesan apaan? Ngelamunin apa sih?” Teriak Jeff menghapus bayangan Thomas. “Eh, ah, eh… ya ya ya??? Ada apa?” Tanya Thomas dengan tampang anehnya. “Mau makan apa???” Sahut Ahn dengan tampang juteknya. Lalu Thomas baru menyadari bahwa dirinya tanpa sengaja menyiksa teman-temannya, yang lain terlihat kelaparan. Lalu dengan cepat ia memesan makanan dan minuman. “Ditunggu pak!” kata wanita tersebut
“Kamu mikirin apa sih? Yang tadi kita kerjain?” Tanya Korano. “Ah?? Nggak kok.” Jawab Thomas dengan muka memerah. “Terus??” desak yang lain. Tiba-tiba Ahn melihat ke arah Thomas, lalu memalingkan muka ke arah wanita tersebut. “E…e…ehmm… kayanya aku tahu nih dia lagi mikirin apa.” Kata Ahn dengan nada meledek. Lalu dipanggilnya Thomas dan Ahn menunjuk wanita itu dengan matanya. “Ya kan???” Ledek Ahn. “Aduh… makanannya lama banget sih nggak datang-datang.” Thomas mengalihkan pembicaraan. Teman-teman yang lain makin curiga dengan tingkah laku Ahn dan Thomas yang aneh.
“Ada apa sih sebenarnya?” Tanya yang lain. “Nanti kuberi tahu deh, sebentar lagi nih!” kata Ahn. Tidak lama setelah berbicara seperti itu, benar saja, wanita itu datang membawa makanan yang telah mereka pesan. “Silahkan dinikmati!” kata wanita tersebut dengan ramah. “EEHHHMMM!!!!” teriak Ahn dengan kencang, dan hampir seluruh isi restaurant melihatnya, sedangkan yang lain terperanjat kaget. Kecuali Thomas, ia masih asik dengan lamunannya. “EHHMMMM!!!! EHHMMMM!!!” teriak teman-temannya dekat kuping, membuat Thomas berdiri dan berkata “Boleh kenalan nggak?” Muka Thomas langsung memerah, lebih merah dari jus stroberi yang ada di situ, lebih merah daripada tomat yang ada di dalam nasi goreng pesanannya, lebih merah daripada taplak meja yang dipasang di meja makannya.
Teman-teman yang lain malah tertawa terbahak-bahak diatas penderitaan yang dibuat teman-temannya tersebut. “Boleh pak, nama saya Ayukawa.” Kata wanita itu sambil tersenyum kecil. “OMG!!! Senyumnya… manis sekali, thanks God!” kata Thomas dalam hati. Suasana menjadi dingin sesaat, mereka berdua saling menatap. “Thom, sahutin dong, cewe itu sudah kasih tahu namanya.” Kata Ahn meledek memecah tatapan mereka berdua. Ayukawa segera melepaskan pandangan tajam, namun menghangatkan hati. “Eh…ahh… eeee…” Thomas hanya berkata seperti itu.
“Ooo… ini toh yang buat si Thomas bengang-bengong dari tadi.” Kata Jeff, Korano, dan Nakamura. “Nnnn…Nnaa…Nama saya Thomas.” Katanya terbata-bata sambil memberikan tangannya. “Senang berkenalan dengan bapak!” Kata Ayukawa menjawab salaman tangan Thomas. “Mari makan!” kata Nakamura yang terlihat kelaparan. Lalu mereka pun makan bersama-sama.
Setelah makan, yang lain tampak kenyang, kecuali Thomas, ia tetap merasa kelaparan, hatinya kelaparan akan cinta. “Thom, ayo pulang, bill sudah dibayar!” ajak Korano. Thomas terlihat sedih meninggalkan Ayukawa. Mereka pun berjalan ke hotel, kebetulan sekali jarak hotel dan restaurant hanya 50 meter, jadi mereka memutuskan berjalan kaki saja.
Sesampainya di hotel, “Ok, kita pisah sekarang ya, besok kita kumpul lagi di Machines and Robots Corp. untuk melihat hasilnya, saatnya kita istirahat dengan damai!” kata Jeff. “Baiklah, benar-benar hari yang baik, terlebih untuk teman kita yang satu ini!” Ledek Ahn tak kunjung berakhir. “Hooaamm… sudah dulu ya, aku tidur duluan!” elak Thomas sambil meninggalkan mereka. “Dahh… jangan lupa mimpiin si-itu ya!” Ledek Ahn lagi. Lalu mereka berempat pun menuju kamar masing-masing.
Bulan purnama yang terlihat, lama-lama tertutup dengan sinar sang surya, menandakan pagi telah datang. Para ilmuwan tersebut terlihat exited. Mereka sudah tidak sabar melihat hasilnya. Namun ini belum 1 hari, jadi mereka harus menunggu kurang lebih 10 jam lagi. Setelah makan pagi bersama, maka mereka segera berangkat ke Machines and Robots Corp.
Di perjalanan menuju Machine and Robots Corp. mereka melihat keindahan Bumi, mereka tidak dapat membayangkan apa yang akan mereka lihat 5 tahun mendatang. “Naka, kenapa prosesnya lama sekali sih, sampai 24 jam?” Tanya Korano. “Pembakaran dilakukan selama 14jam, dan pendinginan sampai suhu normal butuh waktu 10jam, karena suhu yang super panas, jadi kita tidak bisa menaruh ke lemari pendingin.” Nakamura memberi penjelasan.
“Welcome to Machine and Robots Corp. We need your identity if u want entering this building.” Radio kecil yang berada di pintu masuk. “This is Ahn and other scientist.” Kata Ahn. “Mr. Ahn we need your fingerprint, please put your thumb to the scanner, thanks.” Ahn melakukan yang diperintahkan radio tersebut, dan segeralah mereka masuk.
“Selamat datang, sekarang sudah dalam fase pendinginan pak, silahkan tunggu, jika ingin melakukan sesuatu dapat dilakukan di laboratorium kami.” Kata pegawai disana. Segera mereka menuju laboratorium untuk mengontrol bola besi tersebut.
Setelah menunggu cukup lama. Bola besi itu sudah berada dalam kondisi STP, dan siap dibuka untuk melihat keadaan chip tersebut. Nakamura dengan hati hati membuka bola besi tersebut. “OHH NO!!!” Teriak Nakamura
To be continue
Label: Story: The New World
The New World: PROLOGUE
Di galaksi yang luas ini, terdapat tiga buah galaksi terbesar. Milkyway Galaxy, Bezig Galaxy, dan Heilig Galaxy. Cerita ini dimulai ketika bumi yang terdapat di Milkyway Galaxy hancur. Bumi hancur ketika ada sebuah komet raksasa berukuran besar akan menabrak Bumi. Makhluk yang dikenal sebagai manusia itu tidak mampu menempati planet lain, karena tidak ada udara utama untuk bernafas yang dikenal dengan Oxygen (O2). Sekalipun ada, suhu planet itu terlalu panas untuk manusia. Demi menyelamatkan kehidupan mereka, mereka membuat suatu teknologi yang sangat canggih dan dimulailah petualangan oleh manusia.
Sementara itu di Bezig Galaxy, tepatnya di Planet Ouvier, hiduplah satu ras yang dikenal sebagai Belatto, karena letak geografis yang tidak berdekatan, mereka membentuk suatu kekuatan dibawah naungan Belatto Union. Di galaxy ini juga terkenal akan kekuatan gravitasi yang sangat besar, hal ini membuat ras ini bertubuh kerdil. Di balik kekurangannya, ras ini dikenal sebagai penambang ulung dan memiliki otak super cerdas. Hampir seluruh rakyat memiliki kecerdasan sama, terutama di bidang teknologi. Planet mereka hancur karena adanya penambangan liar besar-besaran yang merusak planet itu, dan intensitas cahaya yang dikeluarkan oleh Soulard, matahari mereka sudah memudar, dan akan habis. Maka mereka mulai bertualang.
Di belahan galaxy yang lain, terdapat Planet Heilig di Holy Galaxy, hiduplah satu kesatuan. Mereka memanggil dirinya Cora. Mereka diikat dalam aliansi suci yang dibentuk oleh Decem, dewa mereka. Aliansi ini diberi nama Holy Alliance Cora. Mereka dapat disebut ras yang terbelakang, mereka tidak mengenal yang namanya teknologi. Hidup mereka sepenuhnya bergantung dari alam, mereka juga tidak pernah bertindak jahat satu sama lain, karena mereka takut dengan karma yang akan diberikan oleh Decem. Ras ini awalnya hidup damai, namun karena Black Hole yang mulanya jinak, telah berubah menjadi buas dan akan menyedot semua yang ada di galaxy itu, maka mereka harus melakukan petualangan mencari tempat tinggal baru.
Label: Story: The New World
